Diduga Abang Becak Dan Monyet Jadi Pemain Inti Limbah Mematikan RSUD Kabupaten Kepulauan Meranti

Diduga Abang Becak Dan Monyet Jadi Pemain Inti Limbah Mematikan RSUD Kabupaten Kepulauan Meranti

 

 

Jakarta, 10 Februari 2021-Media Team

 

 

Lanjutan temuan atas pengelolaan limbah mematikan atau limbah medis RSUD Kabupaten Kepulauan Meranti yang diduga kuat dikelola dengan tidak melalui pihak perusahaan khusus, sehingga limbah dikelola dengan bakar di area penyimpanan sementara, dan sementara sisanya dibuang di tempat pembuangan akhir (TPA) tempat yang biasa digunakan untuk pembuangan limbah masyarakat.

Sehingga banyak organisasi masyarakat, sosial kontrol dan semakin gencar menyuarakan untuk meminta pihak yang berwenang untuk segera mengungkap misteri limbah yang mematikan tersebut.

 

 

Tak hanya itu saja, para pengawas independen dan pihak masyarakat turut mengambil bagian demi mengungkap kasus ini, dana pengelolaan limbah beserta dana penanganan limbah Covid-19 dipertanyakan kemana dipergunakan selama ini yang diperkirakan bukan sedikit nilainya.

 

 

Sementara temuan oleh lembaga atau organisasi kontrol bahwa limbah medis B3 infeksius yang dihasilkan oleh RSUD Kabupaten Kepulauan Meranti diduga dikelola oleh yang bukan urusannya, bahkan transporter hanya terlihat dilakukan oleh Abang becak beserta becaknya.Tidak itu saja, temuan team yang dipimpin langsung oleh salah satu Sekjend Organisasi masyarakat yang berbadan hukum tersebut jengkel ketika mendengar klarifikasi yang disampaikan oleh pihak RSUD, yang dengan mudah mengatakan butuh regulasi dalam memperbaiki atas kejadian ini.

 

 

Sementara dampak yang ditimbulkan oleh limbah infeksius dan beracun tersebut tidak semudah bibir bicara, apalagi tidak diketahui pasti berapa tahun limbah beracun tersebut dikelola seperti ini? “tutur Sekjend saat ditanya soal temuan oleh beberapa wartawan”.

Belum lagi limbah yang mematikan tersebut diduga ditularkan oleh beberapa ekor binatang hutan sejenis kera setiap pagi dan sore hari.

 

 

Apa selama beberapa tahun sejak berdirinya RSUD Kabupaten Kepulauan Meranti tidak ada anggaran pengelolaan limbah tersebut? atau jangan-jangan kuat dugaan kuat dikelola juga oleh pasukan tikus berdasi yang ada dalam lingkungan itu sendiri? kalau tidak kemana? mungkinkah hanya pemainnya 3 dalam kompetisi ini?.. ditanya wartawan siapa saja pak Sekjend? … Monyet, Tikus, Becak. “jelasnya sambil tertawa”

 

 

Sekjend sebagai pimpinan team yang memimpin investigasi sehingga temuan tersebut memastikan bahwa permasalahan ini akan tetap kita upayakan agar terungkap, bahkan team kita bersama Kuasa Hukum telah menyurati beberapa pihak untuk turut mengusut misteri limbah yang mematikan tersebut.

Bahkan menurutnya akan segera melaporkan secara resmi kepada pihak penegak hukum, bahkan kita segera meminta Menteri LHK untuk turun ke Kabupaten Kepulauan Meranti memantau kondisi pengelolaan limbah yang diduga sudah bertahun-tahun tersebut.

 

 

Kita bisa lihat nantinya pada bukti yang kita temukan dari 09 Januari 2021 hingga saat ini, terkecuali mereka sulap menjadi sebuah pembuangan khusus diluar tempat yang ditetapkan. Dan becak seperti yang kita lihat disulap menjadi unit transporter legal dari perusahaan yang mestinya. “tambahnya”.

 

 

Hingga saat ini belum ada informasi dari pihak RSUD sebagai penghasil limbah B3 infeksius tersebut, banyak pihak berharap agar hal ini cepat diungkap, baik pihak penegak hukum, termasuk KPK untuk mengusut dugaan kerugian negara yang diakibatkan oleh tikus limbah yang mematikan dan mengerikan tersebut. “Tutupnya”.

 

Media – Team (red)